Minggu, 26 Juli 2015

Tidak Semangat, Pertanda Tidak Baik

Kubuat secangkir kopi dengan tidak terlalu bersemangat. Tidak semangat adalah pertanda tidak baik. Itu sudah pasti. Karena tidak semangat adalah energi negatif yang mudah menjalar ke seluruh kerja organ manusia. Tidak semangat berarti langkah kaki akan berjalan lamban, tanpa tenaga. Tidak semangat berarti sinar mata meredup seperti lampu yang kehabisan daya. Tidak semangat berarti dada tak tegap seperti pohon albasia yang melengkung kena puting beliung. Tidak semangat berarti nafas labil seperti mobil tua yang mogok-mogokan dalam jarak dekat. Tidak semangat berarti bibir kram yang menyebabkan berat untuk tersenyum. Aoh.., mengerikan sekali, apa bedanya tidak semangat dengan sakit stroke??

Sambil berjalan mondar-mandir, naik turun tangga, aku berusaha memulihkan semangat. Entah kapan dan dari mana datangnya, aku berharap semangat segera kembali ke relung jiwaku. Aku tak ingin berpisah lama-lama dengan semangat. Apalah arti hidup ini tanpa semangat menyertai? Sambil komat-kamit aku panggili semangat, "Semangat, datanglah... datanglah... Ayo semangat, jangan tinggalkan aku, bawa aku kemana pun kau pergi,". 

Cling! Lalu semangat turun dari langit... Brrrrrrrrr!!!

Rabu, 01 Juli 2015

Seberapa Besar Kita?

Sebutir pasir di hamparan pantai yang luas, seberapa besarnya sih? Itulah kita. Yang merasa besar dan menyombongkan diri dalam kekecilannya. Seberapa besar kita? Sehingga sering meremehkan gelombang, merendahkan karang. Ingat, kita hanya sebutir pasir. Seberapa besar kita? Selalu berjalan mendongak, membusungkan dada.

Jumat, 12 Juni 2015

Berdo'alah

Allah itu tidak pernah ingkar janji. Dia berjanji akan mengabulkan doa setiap hambanya. Maka berdo'alah, berdo'alah... Kamu jangan berprasangka buruk. Kita memang tidak tahu bentuk pengabulan do'a itu dalam hal waktunya dan wujudnya. Tapi kepastian pengabulan itu adalah "JANJI".

Kamis, 11 Juni 2015

Persoalan Menejemen

Dibalik negara yang baik ada menejemen yang baik. Dibalik negara yang bobrok ada menejemen yang bobrok. Jadi persoalan negara miskin itu bukan persoalan SDM atau SDA yang kurang, tapi persoalan menejemen yang tidak dimainkan.

Usia masalah itu sama tuanya dengan usia manusia. Artinya sejak kali pertama penciptaan manusia di dunia, maka masalah-masalah selalu menyertainya. Pun soal perbedaan yang sering menjadi masalah antar manusia atau antar golongan. Janganlah didramatisir, apalagi diplintir-plintir. Ayolah, perbedaan itu sudah ada sejak dulu, maka yang "diatas" tinggal mengelolanya, memenejnya dengan baik. Agar yang dibawah tidak perlu berdarah-darah.

Selasa, 09 Juni 2015

Berprestasi di usia tua, kenapa tidak?

Beberapa waktu lalu temanku galau. Sampai-sampai Ia searching di google "apa manfaat butiran debu". Sebabnya adalah temanku  ini merasa menjadi butiran debu. Artinya Ia merasa tidak menjadi apa-apa di dunia ini. Ia terpukau dengan perempuan-perempuan hebat yang dapat keliling dunia. Ia silau dengan salah seorang perempuan muda yang memutuskan menikah di usia muda, berkarir secara gemilang, didukung suaminya, lalu puncaknya dapat memasarkan produknya ke Eropa. Wouw?? Iya wouw bangett. 

Kebetulan temanku ini seorang perempuan. Masih muda tapi merasa tua. Usianya baru seperempat abad lebih sedikit. Ia kelimpungan mencari jati diri, mencari adakah manfaat dirinya untuk orang lain. Berpengaruhkah dirinya bagi siapa saja, di usia yang setua ini (kata dia). 

Aku yang sama tuanya (jika menganut paham dia) santai-santai saja. "Lho kok bisa kamu sampai kehabisan akal untuk menjadi berguna? Bermanfaat?"

Di tengah-tengah kebuntuan akalnya, aku tersenyum bijak. "Tidak ada kata terlambat untuk menemukan bakat kita. Tidak ada batasan usia untuk berkarya", inilah kata-kata terkeren yang keluar dari mulut orang yang tak berprestasi seperti saya, hahaa.. Toh ternyata memang ada Jerry Reid, wisudawan S1 yang berusia 70 tahun di Universitas Virginia, USA. "Ingatlah, jalan yang kamu lewati tetap menantimu, disana. Yang harus kamu lakukan adalah bangkit dan kembali" katanya.

Ih si Jerry Read ini memang tua-tua keladi ya, makin tua makin jadi. Tua-tua keladi, makin tua makin berprestasi!Ahaa.. selamat! Selain Jerry Read, saya yakin masih banyak Jerry Read-Jerry Read lain diluar sana. Pokoknya mah untuk berprestasi, untuk menjadi baik, untuk bermanfaat buat sekitar, tidak terpatok pada usia.

Jumat, 29 Mei 2015

Jaman Momong

Di Widara Payung, Pantai Selatan Jawa, kami pernah meninggalkan jejak-jejak kegembiraan disana. Sederhana saja, dengan tiket tak lebih dari lima ribu.







Rabu, 27 Mei 2015

Donatur Kopi


Kopi dari donatur
Karena jujurlah rizki jadi melimpah. Ceritanya kan aku suka jujur ke orang-orang tuh bahwa aku suka kopi item. Dan menyenangkan sekali, kejujuran itu berbuah pada "kalau mereka punya stok kopi item, secara otomatis mereka pun ingat aku". Cuma inget?? Ya gak asik lah kalau cuma inget. Tapi jadi ingin mempersembahkan juga (pake bahasa mempersembahkan untuk menyamarkan kata "ngasih"). Lalu pastinya aku jadi berbunga-bunga,berseri-seri, alhamdulillah sekali.

Kali ini donatur kopi itu adalah temenku, Novi, dan saudaraku, mba Rusmiyati. Berkat kedermawanan mereka, untuk beberapa waktu ini aku bisa menikmati kopi gratis (tapi gulanya beli lho..., gasnya beli lho..., gak semua-muanya gratis). Sudah berminggu-minggu gak habis-habis nih.. Awet. Terimakasih berat pokoknya untuk para donatur. Ehmm... kode..., hahaa..

Ngomong-ngomong soal kopi pasti penggemarnya bukan aku saja. Di keluarga besarku sendiri ada komunitasnya. Sebut saja Lik Yati, tanteku yang wonder women ini dulu suka ngopi bareng aku di pedangan lik Sus. Tapi kopi tanpa pendamping akan merana kesepian. Lalu dicarilah mendoan atau pisang goreng anget untuk menemani. Pasangan serasi! Seru....