Selasa, 06 Oktober 2015

Hujan di atas Kota


Asap-asap pabrik telah terlipat
Kemarau pergi menjadi masa silam
Datanglah yang ditunggu-tunggu
Kabar baik juga kabar buruk
Hujan di atas kota
Keheningan juga kepedihan
Tenggelamlah tenggelam
Kesombongan manusia-manusia sibuk
Di tengah genangan
Yang melumpuhkan

Ada tawa bocah-bocah
Yang bahagia diatas perahu karetnya
Yang berenang-renang
Di halaman rumahnya
Bocah-bocah terus menari
Bersorak sorai
Orangtuanya jongkok di atas genteng
Memikirkan  beras yang terendam
Dan ijazah yang basah

Di perempatan lampu merah
Jerit klakson saling bersautan
Luapan banjir datang dari langit
Luapan emosi pun datang
dari balik mobil-mobil mewah
Begitulah kau
Ditunggu-tunggu untuk di maki
Hujan di atas kota 



Kamis, 24 September 2015

Mengenal Orang-orang Inspiratif

Kalau aku ditanya hal apa saja yang aku syukuri saat ini? Aku akan memberikan jawaban berderet-deret seperti antrian tiket kereta api saat lebaran. Salah satu dari deretan itu adalah aku bersyukur telah diberi kesempatan untuk mengenal orang-orang yang inspiratif.

Kalau kita diberi harta, mungkin akan habis sekali guna. Tapi kalau kita diberi inspirasi, Ia akan berkembang berlipat-lipat.

Inspirasi tidak selalu datang dari orang-orang terkaya di dunia, orang tercerdas, atau orang paling tinggi kekuasaannya. Inspirasi bisa datang dari mana dan siapa saja. Maka selalulah menundukan hati kita untuk peroleh mutiara dari tempat-tempat yang tak terduga. Ia bisa muncul dari kotak emas, meja marmer, lemari reot, karung sobek, atau bahkan di comberan mampet. Semua itu, sekali lagi, hanya bisa didapat dengan penglihatan yang jernih.

Hari ini aku belajar tentang integritas dan ketulusan dari dua orang yang secara lapisan sosial sangat berbeda. Satu orang mewakili lapisan paling atas, satu orang mewakili lapisan paling bawah. Kedua-duanya adalah manusia pilihan di mata saya. Mereka berdua adalah manusia-manusia super yang total dan menghindarkan diri dari keluh kesah. Jiwa mereka begitu lapang, aura-aura kebaikan selalu menyertai langkah mereka. Aku bersyukur telah dipertemukan dengan mereka. Semoga energi yang terpancar menggumpal dan menetap dalam spiritku untuk bekerja, berkarya, total.

Minggu, 13 September 2015

Berhenti Sejenak

Berterimakasihlah jika kita diberi kesibukan. Tapi sibuk yang tidak produktif tentu saja kurang sehat. Sibuklah dengan kualitas yang tinggi. Jangan sibuk tapi tidak menghasilkan apa-apa. Namun diluar kendali kita sebagai manusia, kendati tidak menghasilkan apa-apa, Tuhan tetap memerintahkan kita untuk sibuk. Ya, sibuklah kamu!

Pagi ini disela-sela keletihan, aku teringat cletukan seorang sahabat, "Sungguh tersiksanya orang yang letih karena tidak melakukan apa-apa. Jadi ketika kita letih karena bekerja itu sesungguhnya jauh lebih nikmat daripada letih karena kebingungan akan melakukan apa." Maka akupun bersyukur atas keletihan ini (meski sempat terbesit bayangan hidup santai berleha-leha).

Sibuk bukan berarti tak berhenti. Jangan sampai kita kehilangan makna karena tidak pernah berhenti. Dengan berhenti kita punya kesempatan mengevaluasi. Dengan berhenti kita punya kesempatan menyusun energi. Dengan berhenti kita bisa menyiapkan diri untuk lebih produktif lagi. Bukankah mesin saja tidak bagus kalau digunakan terus-menerus? Maka berhentilah sejenak.


Jumat, 04 September 2015

Pandai-pandailah Berterimakasih

Ketika ada orang yang selalu merasa tidak puas dengan pemberian kita, ada dua kemungkinan; kita yang kurang atau dia yang tidak bersyukur. Maka pandai-pandailah berterimakasih. Karena rasanya dituntut untuk lebih itu tidak enak. Bayangkan saja jika  kita menghidangkan masakan untuk seseorang, lalu tanpa mengucapkan terimakasih orang tersebut berkomentar, "masakannya kurang asin, terlalu keras, kurang matang, terlalu lembek, terlalu ini terlalu itu," lalu yang terakhir dilepehkanlah makanan itu di depan mata kita. Rasanya seperti apa? Enak kan? Ya pasti enak...ahaa.. 

Selamat berakhir pekan, 

Ngopi dulu yuk biar gak tegang.., glek..srupuut...




Senin, 03 Agustus 2015

Ayah

Ngeliat aksi nekad seorang ayah yang menawarkan ginjalnya demi membiayai putrinya kuliah bikin merinding. Betapa cinta seorang ayah terhadap putrinya melebihi nyawanya, betapa untuk mendapatkan sesuatu butuh pengorbanan tingkat akhir, betapa tanggungjawab menjadi orangtua itu membikin syaraf-syaraf seseorang dituntut berpikir diluar normal, dan terakhir, betapa pendidikan itu sulit terjangkau oleh kalangan menengah bawah.

Minggu, 02 Agustus 2015

Cinta dan Ketulusan

Cinta dan ketulusan adalah seperangkat sistem yang tak bisa dipisahkan. Cinta bukanlah bisnis yang senantiasa mengharap keuntungan, cinta bukanlah sandiwara yang penuh kepura-puraan, cinta bukanlah ajang kompetisi yang membagi manusia menjadi dua; pemenang-pecundang, cinta bukanlah politik yang berambisi untuk mendominasi atau menguasai. Cinta adalah kebalikan dari itu semua, tidak mengharapakan keuntungan, tidak pura-pura, tidak menag-kalah, tidak pula mendominasi. Cinta adalah memberi, jujur, pasrah dan berbagi. Untuk itu semua cinta butuh ketulusan.

Sabtu, 01 Agustus 2015

Peristiwa Bubat, Gajah Mada dihukum

 Kenapa ada semacam mitos orang Jawa tidak boleh menikah dengan orang Sunda?


Setelah sekian tahun menelan pesan yang menurut saya tak berdasar itu akhirnya saya temukan muara sejarahnya di serial novel Gajah Mada Hamukti Mosa. Novel ini merupakan salah satu masterpiecenya Langit Kresna Hariadi. Salah satu kesimpulan yang tidak terlalu mengejutkan setelah selesai membaca karya sastra ini adalah Saya Kuper. Kok bisa baru tau sejarah ini?? Itu kesimpulan sampingan. Selanjutnya mari kita buka lembaran karya ini.


Saat menikmati halaman demi halaman, Saya seperti ditarik ke masa silam, masa dimana masyarakat kita hidup di alam kerajaan. Saya pun semakin larut, merasa menjadi manusia abad 12. Menjadi penonton yang tau setiap detail peristiwa. 

Cerita berawal dari kecantikan Putri Dyah Pitaloka Citraresmi. Kecantikan inilah yang saya pahami sekarang menjadi icon bahwa setiap gadis sunda itu cantik. Bagaimana tidak, Putri dari Raja Sunda Galuh itu mampu meluluhlantahkan hati Raja Majapahit. Dan yang luar biasa, Raja Majapahit, Prabu Hayam Wuruk bisa tergila-gila pada Putri Dyah Pitaloka hanya dengan melihat sang Putri dalam lukisan. Ternyata hanya dengan gambar saja hati laki-laki bisa porak poranda.