“Terus...terus...” aba-aba seorang lelaki berkaos putih di halaman sebuah
toko. Lelaki ini tengah memarkir sebuah mobil box untuk memutar rodanya mundur
ke arah kanan. Lambaian tangan dan teriakan laki-laki yang kurang lebih
berprofesi sebagai tukang parkir itu meyakinkan sang supir untuk mengarahkan
mundur mobilnya. Sedangkan posisi mobil
masih menjorok ke halaman dalam pertokoan, sehingga membuat siapa saja,
pengendara maupun pejalan kaki tak “ngeh” dengan mobil yang hendak mundur.
Senin, 26 Januari 2015
Istri Mbah Slamet Sakit
Sekitar empat hari yang lalu saya menerima telpon dari
sahabat di seberang. Suaranya masih renyah seperti sediakala, tawanya selalu
lepas--dalam segala kondisi. Sahabat saya ini adalah laki-laki dengan energi
luar biasa. Namanya Slamet. Kami biasa memanggilnya Mbah Slamet.
Kamis, 22 Januari 2015
Menerima Kodrat
Sejak semalaman gerimis, sesekali hujan, terus
mengguyur ibu kota. Kota yang penuh debu itu seketika luruh dalam
penerimaannya. Menerima sebagai bumi yang menjadi partikel kecil dalam
bungkusannya. Menerima sebagai bumi yang kapan saja bisa dijatuhi benda-benda
angkasa karena kodrat grafitasinya, termasuk air. Yah, Jakarta dengan segala
kebinalannya menerima kodrat, mengadahi hujan.
Rabu, 21 Januari 2015
Selasa, 20 Januari 2015
Waktu dan Pemuda Gagah

Waktu terus melenggang dengan cueknya. Ia tak peduli seberapa banyak orang yang berteriak dan memintanya kembali. Ia tetap saja berjalan. Mungkin Ia laksana pemuda yang gagah, dengan sedikit kesombongan Ia melewati bermacam-macam barisan para gadis.
Barisan pertama adalah barisan para gadis yang sadar akan lewatnya seorang pemuda tampan nan menawan. Maka begitu sang pemuda lewat, barisan gadis siap menangkap kesempatan untuk menguasai si tampan.
Jumat, 14 November 2014
Mantan Kekasihmu Itu Jokowi atau...?
Kamu sangat mencintai kekasihmu, pembuktiannya adalah kamu merawat dan memperhatikannya sepenuh hati. Kamu keluarkan tenaga, biaya, untuk mengantarkan kekasihmu pada kesuksesan. Berhari-hari. Lalu kamu banggakan kekasihmu di depan publik. Kamu katakan bahwa kamu beruntung memilih dia.
Kamu tidak peduli ketika ribuan orang mengatakan kekasihmu buruk rupa. Yang kamu tahu, kekasihmu lah yang terbaik, bak dewa yang turun dari langit sangat sempurna. Kamu semakin bahagia. Akhirnya kekasih pujaanmu sampai pada kesuksesan.
Sang kekasih telah duduk dengan tenang. Menikmati segala keberhasilan yang diusahakanmu mati-matian. Ingat, dulu, kamu hampir melupakan dirimu sendiri karena selalu memikirkan kekasihmu. Dan sekarang...kekasihmu tersenyum dengan kesuksesan yang agung. Saking agungya, kamu tidak dapat menjangkaunya. Tanganmu berusaha menggapai-gapainya, tapi apa daya, sekarang jarakmu terlampau jauh, jauuh...sekali.
Suatu kali kamu pun berteriak, "hey..aku dulu yang mengantarmu pada kesuksesan, kemarilah peluk aku..! Kita yang dulu makan nasi rames bersama..". Dan...kekasihmu membalas dengan tawa yang lebar.., "Ha..ha..ha.., maaf, aku tidak kenal kamu,".
Sambil mengusap air mata dan perutmu yang lapar, kamu menyadari bahwa sesungguhnya sudah ada tanda-tanda kamu akan dilupakan:
1. BBM mu tidak di balas, tapi BBM akan dinaikan
2. Pintu rumahmu dicopot agar semua orang asing bisa bebas masuk rumahmu
Kamu tidak peduli ketika ribuan orang mengatakan kekasihmu buruk rupa. Yang kamu tahu, kekasihmu lah yang terbaik, bak dewa yang turun dari langit sangat sempurna. Kamu semakin bahagia. Akhirnya kekasih pujaanmu sampai pada kesuksesan.
Sang kekasih telah duduk dengan tenang. Menikmati segala keberhasilan yang diusahakanmu mati-matian. Ingat, dulu, kamu hampir melupakan dirimu sendiri karena selalu memikirkan kekasihmu. Dan sekarang...kekasihmu tersenyum dengan kesuksesan yang agung. Saking agungya, kamu tidak dapat menjangkaunya. Tanganmu berusaha menggapai-gapainya, tapi apa daya, sekarang jarakmu terlampau jauh, jauuh...sekali.
Suatu kali kamu pun berteriak, "hey..aku dulu yang mengantarmu pada kesuksesan, kemarilah peluk aku..! Kita yang dulu makan nasi rames bersama..". Dan...kekasihmu membalas dengan tawa yang lebar.., "Ha..ha..ha.., maaf, aku tidak kenal kamu,".
Sambil mengusap air mata dan perutmu yang lapar, kamu menyadari bahwa sesungguhnya sudah ada tanda-tanda kamu akan dilupakan:
1. BBM mu tidak di balas, tapi BBM akan dinaikan
2. Pintu rumahmu dicopot agar semua orang asing bisa bebas masuk rumahmu
Sabtu, 13 September 2014
Butuh Kopi
Tak ada cangkir tersisa di rak sana. Hanya tumpukan bekas bungkus kopi
yang belum dibuang pada tempatnya. Ini keadaan yang kurang menguntungkan
bagi badanku. Yang lesu. Aku butuh berdebar-debar untuk mengerjakan
segala sesuatunya, termasuk mengomentari statusmu. Tapi ternyata dalam
hidup ini bukan hanya kopi yang dapat memacu adrenalin. Kadangkala diskusi tentang masalah yang sedang kita hadapi dapat membangkitkan kembali syaraf otak kita, mendengar kabar kematian orang yang kita kagumi atau sahabat kita juga sedikit menegangkan. Tapi ketika semua persoalan itu di dukung kopi, maka lebih dahsyat lagi jantung dan otak ini bekerja.
Langganan:
Postingan (Atom)

